Pekanbaru,skinusantarapost.com
Kasmarni yang mencoba peruntungan di Pilkada Kabupaten Bengkalis,tampak begitu Percaya Diri akan menduduki orang No 1 di Bengkalis menggantikan sang suami ( Amril Mukminin ) yang saat ini sudah mendapat gelar ‘ Terdakwa ‘ di Persidangan.
Di lansir dari fokusriau.com bahwa data yang dihimpun Parpol yang sudah menyerahkan surat dukungan untuk mengusung Kasmarni yang berpasangan dengan Bagus Santoso adalah Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerindra, Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Nasdem. Artinya hampir dipastikan Kasmarni-Bagus Santoso menjadi pasangan calon bupati dan wakil bupati Bengkalis dengan dukungan terbanyak, kecuali ada faktor X yang membatalkan keduanya ikut serta pada pilkada yang akan digelar bulan Desember tahun ini.
Baca : Raden Adnan : Penerima Aliran Dana Korupsi Amril Mukminin Harus di Proses Hukum Jadi Tersangka
” Pasangan ini cukup intens bersosialisasi.ketengah masyarakat, baik etnis Melayu, Minang, Batak di Mandau dan Pinggir serta paguyuban Jawa. Tapi persoalan hukum yang tengah membelit suami Kasmarni, Amril Mukhminin tentu akan menjadi pertimbangan tersendiri kalangan pemilih, sebab korupsi yang didugakan ke Amril juga melibatkan orang-orang dekat serta kerabat Amril sendiri, “kata praktisi hukum Yhovizar SH, Minggu (09/08/2020).
Disambung lagi bahwa masyarakat sekarang sudah cerdas dan tahu track record siapa pemimpin yang akan mereka pilih. Tersandungnya Amril dan Herliyan Saleh bupati sebelum Amril dalam pusaran korupsi seharusnya membuat masyarakat lebih selektif dalam menentukan pilihan pada pilkada. Apalagi Kasmarni bisa juga tersandung dalam pusaran korupsi sang suami, sebab sekitar tahun 2014-2015 Kasmarni menerima aliran dana via rekening mencapai Rp 23,6 miliar dari dua pengusaha kelapa sawit di Mandau.
Prilaku tersebut ulas Yhovizar bisa saja dikategorikan persekongkolan antara suami dan istri, walau Kasmarni membantah uang puluhan miliar itu murni hasil bisnis. Tetapi Kasmarni tidak pernah memberi penjelasan uang Rp 23,6 miliar itu hasil dari bisnis apa, kecuali bersikukuh bahwa uang tersebut bukan hasil korupsi atau gratifikasi, seperti disampaikan pengacaranya. KPK sendiri berjanji akan menelusuri uang tersebut, karena pihak KPK merasa yakin uang tersebut berasal bukan dari hasil bisnis.
” Luar biasa, Bengkalis dengan APBD kedua terbesar di Indonesia sejak awal otonomi daerah menjadi sarang korupsi dan gratifikasi, yang melibatkan bupati serta oknum pejabat Pemkab Bengkalis. Sudah dua bupati terjerat kasus korupsi di Negeri Junjungan, tapi sepertinya belum memberikan efek jera pada yang lainnya.Termasuk sekarang ini pembangunan jalan lingkar Duri-Sungai Pakning yang sudah direncanakan sejak tahun 2002 lalu, juga menjadi lahan subur korupsi, dengan tersangka suami Kasmarni (Amril Mukhminin,red), “papar pria asal Bengkalis itu memberi contoh.
Baca : Formak Riau Minta KPK Memeriksa Kasmarni Sebagai Pemilik Rekening
Hebatnya lagi menurut Yhovizar, walau sang suami di penjara, Kasmarni malah dengan pede mendeklarasikan diri maju pada pilkada Bupati Bengkalis bersama Bagus Santoso, mantan anggota DPRD Bengkalis dan DPRD Riau. Diyakini dengan kemampuan finansial yang cukup memadai, Kasmarni mampu menebar pesona kesejumlah Parpol. Sampai dukungan untuk syarat maju Pilkada sudah melewati ambang batas, termasuk adanya informasi kalau Kasmarni masih berusaha untuk mendapatkan perahu dari Partai Golkar.
Seperti ada perasaan optimis mampu meraup suara maksimal pada diri Kasmarni untuk maju di Pilkada Bengkalis 2020, malahan dengan dukungan parpol yang maksimal. Sementara pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati lainnya terseok-seok mendapatkan perahu, hingga tak sedikit yang terpaksa gigit jari. Wajar kemudian roda pemerintahan di Bengkalis sejak beberapa tahun belakangan berjalan tidak maksimal karena praktek korupsi yang sudah membudaya, tanpa rasa takut lagi.
Baca : Kasmarni Istri Amril Mukminin Terima Uang Gratifikasi Rp 23,6 M
” Fenomena pada pilkada Bengkalis kali ini cukup unik karena istri mantan bupati sebelumnya yang diduga merupakan pelaku korupsi malah mendapat dukungan maksimal partai politik. Patut juga menjadi catatan ada apa dengan pilkada Bengkalis kali ini, atau memang diduga pusaran korupsi di Bengkalis berada pada lingkaran yang sama dengan orang berbeda,sehingga ada kesan tutup mata terhadap calon yang diusung, “pungkas Yhovizar.***
Photo : net












